Selasa, 20 September 2011

Iman dan Teknologi


Pax Christie !
Sebagai manusia yang hidup pada zaman sekarang, kita tidak bisa lepas dari teknologi. Teknologi membantu kita untuk meringankan pekerjaan. Segalanya bisa menjadi mudah ketika kita dihadapkan pada teknologi. Namun apakah dengan itu kita melupakan begitu saja iman kita yang didasarkan pada sebuah proses yang begitu lama? Apakah iman kita tergerus dengan teknologi yang membawa kita pada budaya instan?
Pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak umat untuk berefleksi sejenak berkaitan dengan kehidupan nyata disandingkan dengan tradisi iman kita. Saya mengambil kisah Santo Agustinus sebagai referensi sehingga membantu kita dalam berefleksi.
Agustinus lahir di Tagaste (sekarang: Soukh-Ahras), Afrika Utara pada tanggal 13 November 354. Ibunya, Monika, seorang yang beriman Kristen dari sebuah keluarga yang taat agama; sedangkan ayahnya Patrisius, seorang tuan tanah dan sesepuh kota yang masih kafir. Agustinus belum juga dipermandikan menjadi Kristen meskipun ia sudah besar karena kekafiran Patrisius yang sungguh berpengaruh besar pada diri Agustinus.
Semenjak kecil Agustinus sudah menampilkan kecerdasan yang tinggi. Namun hidupnya tidak lagi tertib oleh aturan moral. Ia menganut aliran Manikeisme, suatu sekte keagamaan dari Persia yang mengajarkan bahwa semua barang material adalah buruk. Selanjutnya selama beberapa tahun, ia meragukan semua kebenaran agama – agama.
Pada tahun 383 ia pergi ke Roma lalu ke Milano. Di sana ia berkenalan dengan Uskup Ambrosius, seorang mantan gubernur yang saleh. Ia menyaksikan dari dekat cara hidup para biarawan yang bijaksana, ramah dan saling mengasihi. Hatinya tersentuh dan mulailah ia berpikir: “Apa yang mendasari hidup mereka? Injilkah yang mewarnai hidup mereka itu?” Semuanya itu kembali menyadarkan dia akan nasehat – nasehat ibunya tatkala ia masih di Tagaste. Suatu hari, ia mendengar suara ajaib seorang anak: “Ambil dan bacalah!” Tanpa banyak berpikir, ia segera menjamah kitab Injil itu, membukanya dan membaca: “Marilah kita hidup sopan seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Rom 13:13-14).
Agustinus yang telah banyak mendalami filsafat itu akhirnya terbuka pikirannya dan melihat kebenaran sejati, yakni wahyu ilahi yang dibawakan Yesus Kristus. Ia kemudian bertobat dan bersama dengan sahabatnya Alipius.  Agustinus dipermandikan pada tahun 387. Dalam bukunya ‘Confession’, ia menulis riwayat hidup dan pertobatannya dan dengan terus terang mengakui betapa ia sangat terbelenggu oleh kejahatan dosa dan ajaran Manikeisme.
Pada tahun 388, ia kembali ke Afrika bersama ibunya Monika. Di kota pelabuhan Ostia, ibunya meninggal dunia. Tahun – tahun pertama hidupnya di Afrika, ia bertapa dan banyak berdoa. Kemudian ia ditabhiskan menjadi imam pada tahun 391 dan bertugas di Hippo sebagai pembantu uskup di kota itu. Sepeninggal uskup itu pada tahun 395, ia dipilih menjadi Uskup Hippo. Rahmat Tuhan yang besar atas dirinya dimuliakannya di dalam berbagai bentuk kidung dan tulisan. Tulisan – tulisannya meliputi 113 buah buku, 218 buah surat dan 500 buah kotbah. Tak terbilang banyaknya orang berdosa yang bertobat karena membaca tulisan – tulisannya. Tulisan – tulisannya itu hingga kini dianggap oleh para ahli filsafat dan teologi sebagai sumber penting dari pengetahuan rohani. Semua kebenaran iman Kristiani diuraikan secara tepat dan mendalam sehingga mampu menggerakkan hati orang.
Agustinus meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 430 tatkala bangsa Vandal mengepung Hippo. Jenazah Agustinus berhasil diamankan oleh umatnya dan kini dimakamkan di basilik Santo Petrus.
Sebagai seorang Katolik kita seharusnya mendalami betul kisah di atas. Santo Agustinus pada awalnya sama seperti kita yang tidak luput dari dosa, namun perbedaannya adalah apakah kita mau untuk bergerak ke arah yang lebih baik yakni bertobat? Santo Agustinus telah melakukannya. Dari pengalaman sederhana sebenarnya kita mampu untuk bertobat.
Pada kesempatan kali ini saya mau mengajak umat untuk membaca Kitab Suci, apalagi bulan ini adalah bulan Kitab Suci Nasional. Santo Agustinus mengalami pertobatan ketika ia membaca sebuah perikop dalam Kitab Suci. Memang sulit untuk memahami setiap ayat yang terdapat di dalamnya, tetapi saya mau mengajak umat untuk tidak membacanya dengan logika tetapi dengan hati yang terbuka kepada wahyu Tuhan.
Bila dihadapkan pada budaya instan, kisah perjalanan hidup Santo Agustinus sangat cocok untuk kita teladani. Janganlah kita tergerus oleh keinginan-keinginan duniawi yang seringkali memangkas iman kita kepada Tuhan. Kecanggihan teknologi semakin “meminggirkan” Tuhan sebagai yang Esa. Padahal seharusnya kita sadar bahwa segalanya berasal dari Dia, Sang Seniman Agung.
Sebagai ciptaan kita hanya mampu untuk menyandarkan diri kepada kuasa Tuhan dan dengan besar hati mau menjadi alat-Nya di dunia ini. Akhir kata saya mengajak umat untuk melihat diri lebih jauh dengan sebuah cermin kehidupan bahwa segalanya berasal dari Tuhan. Budaya instan jangan sampai menggerus iman kita sebagai seorang Katolik. Dimuliakanlah Tuhan kita Yesus Kristus untuk selama-lamanya.
Deo Gratias !


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar